"..Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab ( dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. [QS Ali Imran (3) : 79]
Saudaraku,
Allah ‘Azza Wa Jalla menakdirkan manusia hidup di dunia lengkap disertai pedoman hidup yang sempurna. Dia utus RasulNya dengan membawa risalah Islam sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Hidup dalam naungan Islam adalah nikmat tak ternilai yang tidak bisa diganti dengan apapun karena ia adalah kunci kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam adalah satu-satunya agama yang benar (haqq), menyeluruh (syaamil) dan sempurna (mutakaamil). Islam menuntun kehidupan manusia sejak lahir hingga wafatnya, sejak bangun tidur sampai kembali tidurnya, serta mulai urusan buang air sampai tata kelola negara.
Untuk mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, Islam tidak cukup hanya dianut sebagai sebuah keyakinan dalam hati apalagi sebatas keterangan agama dalam identitas. Ia harus menjadi ajaran yang hidup dalam diri manusia secara pribadi sebagai
individu maupun secara kolektif sebagai masyarakat. Alquran dan Sunnah Rasulullah ShallaLlahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai sumber ajaran Islam harus dipelajari, diaplikasikan, dan disebarkan.
Proses mempelajari, mengaplikasikan, dan menyebarkan Islam adalah kewajiban seorang muslim yang harus dilaksanakan secara bersamaan sepanjang hayat. Ketiganya tidak dilaksanakan secara bertahap seperti kita menaiki anak tangga karena ketiganya adalah kewajiban yang tidak akan pernah selesai sampai akhir hayat. Seperti pada QS Ali Imran (3) ayat 79 yang tersebut di atas, generasi rabbani adalah generasi yang mengajarkan Alkitab dan tetap mempelajarinya.
Menyebarkan Islam agar ia diyakini sampai diaplikasikan oleh umat manusia secara luas inilah yang biasa kita sebut dengan aktivitas dakwah. Ia merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Allah Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman,
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..” (QS. An-Nahl (16) : 125)
Dakwah secara bahasa berarti jeritan, seruan, atau permohonan. Ketika seseorang mengatakan da’autu fulaanan, itu berarti berteriak atau memanggilnya. Adapun menurut istilah, dakwah memiliki beberapa definisi. Di sini akan disebutkan sebagian dari definisi tersebut.
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.
Sementara itu, Fathi Yakan mengatakan, “Dakwah adalah penghancuran jahiliyah dengan segala bentuknya, baik jahiliyah pola pikir, moral, maupun jahiliyah perundang-undangan dan hukum. Setelah itu pembinaan masyarakat Islam dengan landasan pijak keislaman, baik dalam wujud kandungannya, dalam bentuk dan isinya, dalam perundang-undangan dan cara hidup, maupun dalam segi persepsi keyakinan terhadap alam, manusia dan kehidupan”.
Dapat kita simpulkan, dakwah Islam pada hakikatnya adalah seruan untuk berubah. Ia merupakan usaha mentransformasi manusia pada tataran individu maupun masyarakat dari kehidupan yang penuh kegelapan jahiliyyah menuju cahaya Allah Subhaanahu Wa Ta’aala.
Cita-cita akhir dakwah digambarkan oleh ayat,
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah..” [QS. Al Baqarah (2) : 193]
Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah syirik, sebagaimana ayat berikut,
“Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya”. [QS. An Nisaa (4) : 91]
Beruntunglah para pejuang dakwah dan merugilah orang-orang yang tidak termasuk ke dalam barisan mereka. Allah Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman,
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyerukan kebaikan, menyuruh yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. [QS Ali Imran (3) : 104]
“Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. [QS Al ‘Ashr (103) : 1-3]
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman". [QS Ash Shaff (61) : 10-13]
Ayat-ayat tersebut diperkuat oleh banyak hadits, di antaranya adalah hadits-hadits berikut.
“Sungguh, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki karena (dakwah)-mu, itu lebih baik daripada seekor unta merah.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Apabila Allah memberi hidayah kepada seorang hamba melalui upayamu, maka itu lebih baik bagimu daripada yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.” (HR. Bukhari – Muslim)
“Barang siapa yang menghidupkan sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang telah mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka walau sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang jelek dalam Islam, baginya adalah dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
***
Saudaraku,
dakwah yang kita lakukan juga merupakan cara kita menyelamatkan diri dari siksa Allah Subhaanahu Wa Ta’aala baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman,
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangan (kekuasaan)-nya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya Iman dan setelah itu tidak ada lagi iman sedikitpun.” (HR.Muslim)
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. [QS Al Anfaal (8) : 25]
Dalam Alquran, orang-orang kafir laknatullah digambarkan dengan ketidakpedulian mereka melihat kemungkaran. Allah berfirman,
“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. [QS Al Maaidah (5) : 79]
“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kamu menyuruh kepada kemakrufan, mencegah dari kemungkaran atau Allah menyegerakan pengiriman siksa dari sisi-Nya, kemudian kamu berdoa kepada-Nya, lalu Dia tidak memperkenankan doamu.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi]
Dakwah bukan aktivitas mubah yang dikerjakan hanya di masa luang atau ibadah sunnah yang dikerjakan selagi bersemangat saja atau fardhu kifayah yang cukup dilakukan oleh segelintir orang. Dakwah adalah aktivitas fardhu’ain yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku sebagai muslim.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” [QS Ali Imran (3) : 110]
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”. [QS Ash Shaff (61) : 14]
“Hai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” [QS. Al Muddatstsir (74) : 1-2]
“Adakah yang lebih baik perkataannya selain dari orang-orang yang menyeru kepada Allah swt dan mereka beramal shalih dan berkata sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat 41:33-34)
Saudaraku,
Allah ‘Azza Wa Jalla menakdirkan manusia hidup di dunia lengkap disertai pedoman hidup yang sempurna. Dia utus RasulNya dengan membawa risalah Islam sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Hidup dalam naungan Islam adalah nikmat tak ternilai yang tidak bisa diganti dengan apapun karena ia adalah kunci kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam adalah satu-satunya agama yang benar (haqq), menyeluruh (syaamil) dan sempurna (mutakaamil). Islam menuntun kehidupan manusia sejak lahir hingga wafatnya, sejak bangun tidur sampai kembali tidurnya, serta mulai urusan buang air sampai tata kelola negara.
Untuk mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, Islam tidak cukup hanya dianut sebagai sebuah keyakinan dalam hati apalagi sebatas keterangan agama dalam identitas. Ia harus menjadi ajaran yang hidup dalam diri manusia secara pribadi sebagai
individu maupun secara kolektif sebagai masyarakat. Alquran dan Sunnah Rasulullah ShallaLlahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai sumber ajaran Islam harus dipelajari, diaplikasikan, dan disebarkan.
Proses mempelajari, mengaplikasikan, dan menyebarkan Islam adalah kewajiban seorang muslim yang harus dilaksanakan secara bersamaan sepanjang hayat. Ketiganya tidak dilaksanakan secara bertahap seperti kita menaiki anak tangga karena ketiganya adalah kewajiban yang tidak akan pernah selesai sampai akhir hayat. Seperti pada QS Ali Imran (3) ayat 79 yang tersebut di atas, generasi rabbani adalah generasi yang mengajarkan Alkitab dan tetap mempelajarinya.
Menyebarkan Islam agar ia diyakini sampai diaplikasikan oleh umat manusia secara luas inilah yang biasa kita sebut dengan aktivitas dakwah. Ia merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Allah Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman,
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..” (QS. An-Nahl (16) : 125)
Dakwah secara bahasa berarti jeritan, seruan, atau permohonan. Ketika seseorang mengatakan da’autu fulaanan, itu berarti berteriak atau memanggilnya. Adapun menurut istilah, dakwah memiliki beberapa definisi. Di sini akan disebutkan sebagian dari definisi tersebut.
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.
Sementara itu, Fathi Yakan mengatakan, “Dakwah adalah penghancuran jahiliyah dengan segala bentuknya, baik jahiliyah pola pikir, moral, maupun jahiliyah perundang-undangan dan hukum. Setelah itu pembinaan masyarakat Islam dengan landasan pijak keislaman, baik dalam wujud kandungannya, dalam bentuk dan isinya, dalam perundang-undangan dan cara hidup, maupun dalam segi persepsi keyakinan terhadap alam, manusia dan kehidupan”.
Dapat kita simpulkan, dakwah Islam pada hakikatnya adalah seruan untuk berubah. Ia merupakan usaha mentransformasi manusia pada tataran individu maupun masyarakat dari kehidupan yang penuh kegelapan jahiliyyah menuju cahaya Allah Subhaanahu Wa Ta’aala.
Cita-cita akhir dakwah digambarkan oleh ayat,
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah..” [QS. Al Baqarah (2) : 193]
Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah syirik, sebagaimana ayat berikut,
“Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya”. [QS. An Nisaa (4) : 91]
Beruntunglah para pejuang dakwah dan merugilah orang-orang yang tidak termasuk ke dalam barisan mereka. Allah Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman,
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyerukan kebaikan, menyuruh yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. [QS Ali Imran (3) : 104]
“Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. [QS Al ‘Ashr (103) : 1-3]
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman". [QS Ash Shaff (61) : 10-13]
Ayat-ayat tersebut diperkuat oleh banyak hadits, di antaranya adalah hadits-hadits berikut.
“Sungguh, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki karena (dakwah)-mu, itu lebih baik daripada seekor unta merah.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Apabila Allah memberi hidayah kepada seorang hamba melalui upayamu, maka itu lebih baik bagimu daripada yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.” (HR. Bukhari – Muslim)
“Barang siapa yang menghidupkan sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang telah mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka walau sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang jelek dalam Islam, baginya adalah dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
***
Saudaraku,
dakwah yang kita lakukan juga merupakan cara kita menyelamatkan diri dari siksa Allah Subhaanahu Wa Ta’aala baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman,
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangan (kekuasaan)-nya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya Iman dan setelah itu tidak ada lagi iman sedikitpun.” (HR.Muslim)
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. [QS Al Anfaal (8) : 25]
Dalam Alquran, orang-orang kafir laknatullah digambarkan dengan ketidakpedulian mereka melihat kemungkaran. Allah berfirman,
“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. [QS Al Maaidah (5) : 79]
“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kamu menyuruh kepada kemakrufan, mencegah dari kemungkaran atau Allah menyegerakan pengiriman siksa dari sisi-Nya, kemudian kamu berdoa kepada-Nya, lalu Dia tidak memperkenankan doamu.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi]
Dakwah bukan aktivitas mubah yang dikerjakan hanya di masa luang atau ibadah sunnah yang dikerjakan selagi bersemangat saja atau fardhu kifayah yang cukup dilakukan oleh segelintir orang. Dakwah adalah aktivitas fardhu’ain yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku sebagai muslim.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” [QS Ali Imran (3) : 110]
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”. [QS Ash Shaff (61) : 14]
“Hai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” [QS. Al Muddatstsir (74) : 1-2]
“Adakah yang lebih baik perkataannya selain dari orang-orang yang menyeru kepada Allah swt dan mereka beramal shalih dan berkata sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat 41:33-34)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar