Minggu, 13 Oktober 2013

Syura

Setelah memahami pentingnya berjamaah, kita perlu memahami bagaimana ‘amal jama’i bekerja. Elemen utama dalam ‘amal jama’i adalah musyawarah (syura). Dalam keputusan-keputusan yang berkaitan dengan strategi dakwahnya, Rasulullah SAW seringkali bermusyawarah dengan para sahabat.
Dikisahkan Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buthy dalam Fiqhus Sirah, menjelang Perang Uhud Rasulullah SAW meminta masukan dari para sahabat dalam memutuskan akan menyambut musuh di luar kota Madinah atau bertahan di dalam kota. Golongan tua termasuk sang munafiq Abdullah Bin Ubay Bin Salul memilih bertahan. Sedangkan golongan muda berkata, “Wahai Rasulullah, bawalah kami keluar menghadapi musuh kita agar mereka tidak menganggap kita takut dan tidak mampu menghadapi mereka”. Akhirnya Rasulullah menyetujui pendapat golongan muda.
Ketika Rasulullah telah mengenakan baju perangnya, golongan muda ini menyesal telah memaksa Rasulullah. Mereka berkata, “Kami telah mendesak anda, wahai Rasulullah, padahal tidak selayaknya kami seperti itu. Maka jika anda suka duduklah saja”. Rasulullah menunjukkan sikap konsekuen dengan menjawab, “Tidak pantas bagi seorang Nabi apabila telah memakai pakaian perangnya untuk meletakkannya kembali sebelum berperang”.
Setelah seribu orang pasukan berangkat menuju Bukit Uhud, di tengah jalan golongan munafiq berbalik arah. Abdullah Bin Ubay Bin Salul berkata, “Dia (Nabi SAW) tidak menyetujui pendapatku malah menyetujui pendapat anak-anak kecil dan orang-orang awam.  Kami tidak tahu untuk apa kami harus membunuh diri kami sendiri”. Begitulah orang-orang munafiq tidak mau menerima hasil musyawarah.