Download:
-Daftar Isi
-Muwashaffat/Karakteristik
-Preferensi Materi
-Mentor Guide #1
-Mentor Guide #2
COMING SOON: Grand Design Tarbiyyah 2010!!
Rabu, 15 Desember 2010
Jumat, 28 Mei 2010
Shaum 3 Hari Tiap Bulan

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasa tiga hari setiap bulan seperti berpuasa setahun penuh.”[1]
Hadits yang agung ini menunjukkan anjuran berpuasa tiga hari setiap bulan, baik itu di awal bulan, di pertengahan, atau di akhirnya, dan boleh dilakukan tiga hari berturut-turut atau terpisah.[2]
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
1. Pada setiap kurun waktu waktu yang dilalui manusia, Allah azza wa jalla menetapkan musim-musim kebaikan, dan Dia azza wa jalla mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya.[3]
2. Pahala perbuatan baik akan dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kali,[4] karena puasa tiga hari pahalanya dilipatkangandakan sepuluh kali menjadi tiga puluh hari (satu bulan), maka kalau ini dikerjakan setiap bulan berarti sama dengan berpuasa satu tahun penuh.[5]
3. Keutamaan berpuasa ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, sebagaimana yang diriwayatkan oleh istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha.[6]
4. Demikian pula lebih dikuatkan dengan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada beberapa sahabat untuk melakukan puasa ini, seperti kepada Abu Hurairah [7] dan Abu Dzar[8] radhiyallahu ‘anhuma.
5. Yang paling utama puasa tiga hari ini dilakukan pada hari-hari bidh (putih/terang)[9], yaitu tanggal 13,14 dan 15 setiap bulan (hijriyah),[10] karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan hal ini secara khusus dalam hadits yang shahih.[11]
6. Larangan berpuasa tiap hari sepanjang tahun (puasa dahr), kemudian beliau membimbing mereka kepada kebaikan dan keutamaan yang mereka mampu kerjakan secara kontinyu.[13]
7. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan amal ibadah yang dikerjakan secara kontinyu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.” [14] Wallahu a’lam.
Note:
[1] HR.al-Bukhari 1878 dan Muslim 1159
[2] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ 3/98
[3] Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam Lathaiful Ma’arif hal.19-20
[4] HR.al-Bukhari 42
[5] Lihat kitab asy-Syarhul Mumti’ 3/97 dan Bahjatun Nazhirin 2/390
[6] HR.Muslim 1160
[7] HR.al-Bukhari 1124 dan Muslim 721
[8] HR.Muslim 722
[9] Dinamakan demikian karena pada malam harinya bersinar bulan purnama. Ibid 3/97 dan 2/389
[10] Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam “Riyadhus Shalihin” (2/389-Bahjatun Nazhirin)
[11] HR.Abu Dawud 2449 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani
[12] Lihat Bahjatun Nazhirin 2/391
[13] Lihat kitab Bahjatun Nazhirin 2/391
[14] HR.al-Bukhari 6099 dan Muslim 783.
Semoga Allah azza wa jalla memudahkan kita untuk bisa mengamalkannya.
Sumber: http://alqiyamah.wordpress.com
Rabu, 21 April 2010
Sekilas tentang Jenjang Kader Asy-Syifaa’

Bismillah. Ba’da tahmid wa shalawat.
Untuk terus mengembangkan proses tarbiyyah agar kualitas dan kuantitas kader Asy-Syifaa’ terus meningkat hingga titik optimal, salah satu aspek yang ingin dihidupkan kembali dalam tarbiyyah kader adalah sistem jenjang kader. Sistem ini sebetulnya adalah sistem yang diwariskan dari kepengurusan tahun-tahun sebelumnya. Bagi kita yang menjadi pewaris sistem, di awal kita perlu mengevaluasi kembali urgensi dan tujuan sistem ini agar ia tidak kehilangan esensi.
Jenjang kader bukanlah upaya menilai keshalihan seseorang atau membentuk budaya eksklusifisme. Tarbiyyah berbasis jenjang ingin lebih diperkuat agar setiap kader bisa menjalani proses yang tepat sesuai kurikulum yang sudah disusun. Jenjang kader memberikan gambaran kasar tentang tarbiyyah seperti apa yang tepat untuk seseorang. Ibarat nutrisi, nikmat tarbiyyah yang sebenarnya sangat luar biasa tidak akan terasa jika kadar yang diberikan tidak tepat. Suplai tarbiyyah bagi setiap kader harus tepat kadarnya, tidak kekurangan atau pun kelebihan, agar nikmat tarbiyyah dapat dirasakan oleh kader.
Lalu, seperti yang kita tahu, ilmu adalah bekal hidup bagi pemiliknya. Di sisi lain, ilmu juga menjadi beban/tanggung jawab bagi pemiliknya untuk diamalkan dan disampaikan pada orang lain. Oleh karena ilmu adalah bekal dan tanggung jawab, maka tarbiyyah yang kita jalani selalu memiliki dua sisi: hak & amanah. Setiap kader perlu melihat jenjangnya dalam dua sisi tersebut agar tidak keliru dalam menyikapi sistem perjenjangan ini.
Pada dasarnya, setiap kader Asy-Syifaa’ adalah seorang muslim yang memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah. Kewajiban seorang muslim adalah terus menuntut ilmu lalu mengamalkan dan menyampaikannya pada orang lain. Jika ikhlas dalam mengamalkan dan menyampaikannya, seorang muslim berhak atas pahala yang akan mengantarkannya ke surga Allah. Oleh karena itu, setiap kader hanya perlu berpikir tentang produktivitas amal tanpa perlu terlalu memikirkan jenjangnya.
Perbaikan-perbaikan ini masih berupa pendekatan menuju konsep ideal. Proses tarbiyyah kita belum sepenuhnya terarah mengikuti kurikulum yang sudah disusun. Seorang “Leader” bisa jadi belum memenuhi semua muwashaffat “Beginner” dan “Learner”. Oelh karena itu, setiap kader diharapkan lebih proaktif dan berinisiatif dalam membangun kepribadian islami pada dirinya yang digambarkan oleh muwashaffat-muwashaffat kader Asy-Syifaa’.
Semoga kita selalu memiliki totalitas dalam tarbiyyah dan dakwah agar kita termasuk orang yang beruntung.
Untuk terus mengembangkan proses tarbiyyah agar kualitas dan kuantitas kader Asy-Syifaa’ terus meningkat hingga titik optimal, salah satu aspek yang ingin dihidupkan kembali dalam tarbiyyah kader adalah sistem jenjang kader. Sistem ini sebetulnya adalah sistem yang diwariskan dari kepengurusan tahun-tahun sebelumnya. Bagi kita yang menjadi pewaris sistem, di awal kita perlu mengevaluasi kembali urgensi dan tujuan sistem ini agar ia tidak kehilangan esensi.
Jenjang kader bukanlah upaya menilai keshalihan seseorang atau membentuk budaya eksklusifisme. Tarbiyyah berbasis jenjang ingin lebih diperkuat agar setiap kader bisa menjalani proses yang tepat sesuai kurikulum yang sudah disusun. Jenjang kader memberikan gambaran kasar tentang tarbiyyah seperti apa yang tepat untuk seseorang. Ibarat nutrisi, nikmat tarbiyyah yang sebenarnya sangat luar biasa tidak akan terasa jika kadar yang diberikan tidak tepat. Suplai tarbiyyah bagi setiap kader harus tepat kadarnya, tidak kekurangan atau pun kelebihan, agar nikmat tarbiyyah dapat dirasakan oleh kader.
Lalu, seperti yang kita tahu, ilmu adalah bekal hidup bagi pemiliknya. Di sisi lain, ilmu juga menjadi beban/tanggung jawab bagi pemiliknya untuk diamalkan dan disampaikan pada orang lain. Oleh karena ilmu adalah bekal dan tanggung jawab, maka tarbiyyah yang kita jalani selalu memiliki dua sisi: hak & amanah. Setiap kader perlu melihat jenjangnya dalam dua sisi tersebut agar tidak keliru dalam menyikapi sistem perjenjangan ini.
Pada dasarnya, setiap kader Asy-Syifaa’ adalah seorang muslim yang memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah. Kewajiban seorang muslim adalah terus menuntut ilmu lalu mengamalkan dan menyampaikannya pada orang lain. Jika ikhlas dalam mengamalkan dan menyampaikannya, seorang muslim berhak atas pahala yang akan mengantarkannya ke surga Allah. Oleh karena itu, setiap kader hanya perlu berpikir tentang produktivitas amal tanpa perlu terlalu memikirkan jenjangnya.
Perbaikan-perbaikan ini masih berupa pendekatan menuju konsep ideal. Proses tarbiyyah kita belum sepenuhnya terarah mengikuti kurikulum yang sudah disusun. Seorang “Leader” bisa jadi belum memenuhi semua muwashaffat “Beginner” dan “Learner”. Oelh karena itu, setiap kader diharapkan lebih proaktif dan berinisiatif dalam membangun kepribadian islami pada dirinya yang digambarkan oleh muwashaffat-muwashaffat kader Asy-Syifaa’.
Semoga kita selalu memiliki totalitas dalam tarbiyyah dan dakwah agar kita termasuk orang yang beruntung.
Rabu, 31 Maret 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
