
Bismillah. Ba’da tahmid wa shalawat.
Untuk terus mengembangkan proses tarbiyyah agar kualitas dan kuantitas kader Asy-Syifaa’ terus meningkat hingga titik optimal, salah satu aspek yang ingin dihidupkan kembali dalam tarbiyyah kader adalah sistem jenjang kader. Sistem ini sebetulnya adalah sistem yang diwariskan dari kepengurusan tahun-tahun sebelumnya. Bagi kita yang menjadi pewaris sistem, di awal kita perlu mengevaluasi kembali urgensi dan tujuan sistem ini agar ia tidak kehilangan esensi.
Jenjang kader bukanlah upaya menilai keshalihan seseorang atau membentuk budaya eksklusifisme. Tarbiyyah berbasis jenjang ingin lebih diperkuat agar setiap kader bisa menjalani proses yang tepat sesuai kurikulum yang sudah disusun. Jenjang kader memberikan gambaran kasar tentang tarbiyyah seperti apa yang tepat untuk seseorang. Ibarat nutrisi, nikmat tarbiyyah yang sebenarnya sangat luar biasa tidak akan terasa jika kadar yang diberikan tidak tepat. Suplai tarbiyyah bagi setiap kader harus tepat kadarnya, tidak kekurangan atau pun kelebihan, agar nikmat tarbiyyah dapat dirasakan oleh kader.
Lalu, seperti yang kita tahu, ilmu adalah bekal hidup bagi pemiliknya. Di sisi lain, ilmu juga menjadi beban/tanggung jawab bagi pemiliknya untuk diamalkan dan disampaikan pada orang lain. Oleh karena ilmu adalah bekal dan tanggung jawab, maka tarbiyyah yang kita jalani selalu memiliki dua sisi: hak & amanah. Setiap kader perlu melihat jenjangnya dalam dua sisi tersebut agar tidak keliru dalam menyikapi sistem perjenjangan ini.
Pada dasarnya, setiap kader Asy-Syifaa’ adalah seorang muslim yang memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah. Kewajiban seorang muslim adalah terus menuntut ilmu lalu mengamalkan dan menyampaikannya pada orang lain. Jika ikhlas dalam mengamalkan dan menyampaikannya, seorang muslim berhak atas pahala yang akan mengantarkannya ke surga Allah. Oleh karena itu, setiap kader hanya perlu berpikir tentang produktivitas amal tanpa perlu terlalu memikirkan jenjangnya.
Perbaikan-perbaikan ini masih berupa pendekatan menuju konsep ideal. Proses tarbiyyah kita belum sepenuhnya terarah mengikuti kurikulum yang sudah disusun. Seorang “Leader” bisa jadi belum memenuhi semua muwashaffat “Beginner” dan “Learner”. Oelh karena itu, setiap kader diharapkan lebih proaktif dan berinisiatif dalam membangun kepribadian islami pada dirinya yang digambarkan oleh muwashaffat-muwashaffat kader Asy-Syifaa’.
Semoga kita selalu memiliki totalitas dalam tarbiyyah dan dakwah agar kita termasuk orang yang beruntung.
Untuk terus mengembangkan proses tarbiyyah agar kualitas dan kuantitas kader Asy-Syifaa’ terus meningkat hingga titik optimal, salah satu aspek yang ingin dihidupkan kembali dalam tarbiyyah kader adalah sistem jenjang kader. Sistem ini sebetulnya adalah sistem yang diwariskan dari kepengurusan tahun-tahun sebelumnya. Bagi kita yang menjadi pewaris sistem, di awal kita perlu mengevaluasi kembali urgensi dan tujuan sistem ini agar ia tidak kehilangan esensi.
Jenjang kader bukanlah upaya menilai keshalihan seseorang atau membentuk budaya eksklusifisme. Tarbiyyah berbasis jenjang ingin lebih diperkuat agar setiap kader bisa menjalani proses yang tepat sesuai kurikulum yang sudah disusun. Jenjang kader memberikan gambaran kasar tentang tarbiyyah seperti apa yang tepat untuk seseorang. Ibarat nutrisi, nikmat tarbiyyah yang sebenarnya sangat luar biasa tidak akan terasa jika kadar yang diberikan tidak tepat. Suplai tarbiyyah bagi setiap kader harus tepat kadarnya, tidak kekurangan atau pun kelebihan, agar nikmat tarbiyyah dapat dirasakan oleh kader.
Lalu, seperti yang kita tahu, ilmu adalah bekal hidup bagi pemiliknya. Di sisi lain, ilmu juga menjadi beban/tanggung jawab bagi pemiliknya untuk diamalkan dan disampaikan pada orang lain. Oleh karena ilmu adalah bekal dan tanggung jawab, maka tarbiyyah yang kita jalani selalu memiliki dua sisi: hak & amanah. Setiap kader perlu melihat jenjangnya dalam dua sisi tersebut agar tidak keliru dalam menyikapi sistem perjenjangan ini.
Pada dasarnya, setiap kader Asy-Syifaa’ adalah seorang muslim yang memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah. Kewajiban seorang muslim adalah terus menuntut ilmu lalu mengamalkan dan menyampaikannya pada orang lain. Jika ikhlas dalam mengamalkan dan menyampaikannya, seorang muslim berhak atas pahala yang akan mengantarkannya ke surga Allah. Oleh karena itu, setiap kader hanya perlu berpikir tentang produktivitas amal tanpa perlu terlalu memikirkan jenjangnya.
Perbaikan-perbaikan ini masih berupa pendekatan menuju konsep ideal. Proses tarbiyyah kita belum sepenuhnya terarah mengikuti kurikulum yang sudah disusun. Seorang “Leader” bisa jadi belum memenuhi semua muwashaffat “Beginner” dan “Learner”. Oelh karena itu, setiap kader diharapkan lebih proaktif dan berinisiatif dalam membangun kepribadian islami pada dirinya yang digambarkan oleh muwashaffat-muwashaffat kader Asy-Syifaa’.
Semoga kita selalu memiliki totalitas dalam tarbiyyah dan dakwah agar kita termasuk orang yang beruntung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar