Sabtu, 21 Desember 2013

Menjadi Ibu

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
Ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid.
Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia:
“Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?
Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman.
“Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair.
Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid.
Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya.
Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun.
Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.
Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.
Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah.
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya.
Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu.
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya,panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”.
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya,
tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman.
Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak.
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan.
Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses.
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri.
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

***
diambil dari peredaran status FB

Minggu, 13 Oktober 2013

Syura

Setelah memahami pentingnya berjamaah, kita perlu memahami bagaimana ‘amal jama’i bekerja. Elemen utama dalam ‘amal jama’i adalah musyawarah (syura). Dalam keputusan-keputusan yang berkaitan dengan strategi dakwahnya, Rasulullah SAW seringkali bermusyawarah dengan para sahabat.
Dikisahkan Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buthy dalam Fiqhus Sirah, menjelang Perang Uhud Rasulullah SAW meminta masukan dari para sahabat dalam memutuskan akan menyambut musuh di luar kota Madinah atau bertahan di dalam kota. Golongan tua termasuk sang munafiq Abdullah Bin Ubay Bin Salul memilih bertahan. Sedangkan golongan muda berkata, “Wahai Rasulullah, bawalah kami keluar menghadapi musuh kita agar mereka tidak menganggap kita takut dan tidak mampu menghadapi mereka”. Akhirnya Rasulullah menyetujui pendapat golongan muda.
Ketika Rasulullah telah mengenakan baju perangnya, golongan muda ini menyesal telah memaksa Rasulullah. Mereka berkata, “Kami telah mendesak anda, wahai Rasulullah, padahal tidak selayaknya kami seperti itu. Maka jika anda suka duduklah saja”. Rasulullah menunjukkan sikap konsekuen dengan menjawab, “Tidak pantas bagi seorang Nabi apabila telah memakai pakaian perangnya untuk meletakkannya kembali sebelum berperang”.
Setelah seribu orang pasukan berangkat menuju Bukit Uhud, di tengah jalan golongan munafiq berbalik arah. Abdullah Bin Ubay Bin Salul berkata, “Dia (Nabi SAW) tidak menyetujui pendapatku malah menyetujui pendapat anak-anak kecil dan orang-orang awam.  Kami tidak tahu untuk apa kami harus membunuh diri kami sendiri”. Begitulah orang-orang munafiq tidak mau menerima hasil musyawarah.


Rabu, 25 September 2013

Dakwah

"..Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab ( dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. [QS Ali Imran (3) : 79]

Saudaraku,
Allah ‘Azza Wa Jalla menakdirkan manusia hidup di dunia lengkap disertai pedoman hidup yang sempurna. Dia utus RasulNya dengan membawa risalah Islam sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Hidup dalam naungan Islam adalah nikmat tak ternilai yang tidak bisa diganti dengan apapun karena ia adalah kunci kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam adalah satu-satunya agama yang benar (haqq), menyeluruh (syaamil) dan sempurna (mutakaamil). Islam menuntun kehidupan manusia sejak lahir hingga wafatnya, sejak bangun tidur sampai kembali tidurnya, serta mulai urusan buang air sampai tata kelola negara.

Untuk mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, Islam tidak cukup hanya dianut sebagai sebuah keyakinan dalam hati apalagi sebatas keterangan agama dalam identitas. Ia harus menjadi ajaran yang hidup dalam diri manusia secara pribadi sebagai
individu maupun secara kolektif sebagai masyarakat. Alquran dan Sunnah Rasulullah ShallaLlahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai sumber ajaran Islam harus dipelajari, diaplikasikan, dan disebarkan.

Proses mempelajari, mengaplikasikan, dan menyebarkan Islam adalah kewajiban seorang muslim yang harus dilaksanakan secara bersamaan sepanjang hayat. Ketiganya tidak dilaksanakan secara bertahap seperti kita menaiki anak tangga karena ketiganya adalah kewajiban yang tidak akan pernah selesai sampai akhir hayat. Seperti pada QS Ali Imran (3) ayat 79 yang tersebut di atas, generasi rabbani adalah generasi yang mengajarkan Alkitab dan tetap mempelajarinya.

Menyebarkan Islam agar ia diyakini sampai diaplikasikan oleh umat manusia secara luas inilah yang biasa kita sebut dengan aktivitas dakwah. Ia merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Allah Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..” (QS. An-Nahl (16) : 125)

Dakwah secara bahasa berarti jeritan, seruan, atau permohonan. Ketika seseorang mengatakan da’autu fulaanan, itu berarti berteriak atau memanggilnya. Adapun menurut istilah, dakwah memiliki beberapa definisi. Di sini akan disebutkan sebagian dari definisi tersebut.

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.

Sementara itu, Fathi Yakan mengatakan, “Dakwah adalah penghancuran jahiliyah dengan segala bentuknya, baik jahiliyah pola pikir, moral, maupun jahiliyah perundang-undangan dan hukum. Setelah itu pembinaan masyarakat Islam dengan landasan pijak keislaman, baik dalam wujud kandungannya, dalam bentuk dan isinya, dalam perundang-undangan dan cara hidup, maupun dalam segi persepsi keyakinan terhadap alam, manusia dan kehidupan”.

Dapat kita simpulkan, dakwah Islam pada hakikatnya adalah seruan untuk berubah. Ia merupakan usaha mentransformasi manusia pada tataran individu maupun masyarakat dari kehidupan yang penuh kegelapan jahiliyyah menuju cahaya Allah Subhaanahu Wa Ta’aala.

Cita-cita akhir dakwah digambarkan oleh ayat,

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah..” [QS. Al Baqarah (2) : 193]

Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah syirik, sebagaimana ayat berikut,

“Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya”. [QS. An Nisaa (4) : 91]

Beruntunglah para pejuang dakwah dan merugilah orang-orang yang tidak termasuk ke dalam barisan mereka. Allah Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyerukan kebaikan, menyuruh yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. [QS Ali Imran (3) : 104]

“Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,  kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. [QS Al ‘Ashr (103) : 1-3]

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. 
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman". [QS Ash Shaff (61) : 10-13]

Ayat-ayat tersebut diperkuat oleh banyak hadits, di antaranya adalah hadits-hadits berikut.

“Sungguh, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki karena (dakwah)-mu, itu lebih baik daripada seekor unta merah.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Apabila Allah memberi hidayah kepada seorang hamba melalui upayamu, maka itu lebih baik bagimu daripada yang dijangkau  matahari sejak terbit sampai terbenam.” (HR. Bukhari – Muslim)

“Barang siapa yang menghidupkan sunnah  hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang telah mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka walau sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang jelek dalam Islam, baginya adalah dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

***

Saudaraku,
dakwah yang kita lakukan juga merupakan cara kita menyelamatkan diri dari siksa Allah Subhaanahu Wa Ta’aala baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman,

“Barangsiapa  diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangan (kekuasaan)-nya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya Iman dan setelah itu tidak ada lagi iman sedikitpun.” (HR.Muslim)

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. [QS Al Anfaal (8) : 25]

Dalam Alquran, orang-orang kafir laknatullah digambarkan dengan ketidakpedulian mereka melihat kemungkaran. Allah berfirman,

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. [QS Al Maaidah (5) : 79]

“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kamu menyuruh kepada kemakrufan, mencegah dari kemungkaran atau Allah menyegerakan pengiriman siksa dari sisi-Nya, kemudian kamu berdoa kepada-Nya, lalu Dia tidak memperkenankan doamu.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi]

Dakwah bukan aktivitas mubah yang dikerjakan hanya di masa luang atau ibadah sunnah yang dikerjakan selagi bersemangat saja atau fardhu kifayah yang cukup dilakukan oleh segelintir orang. Dakwah adalah aktivitas fardhu’ain yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku sebagai muslim.

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” [QS Ali Imran (3) : 110]

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”. [QS Ash Shaff (61) : 14]

“Hai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” [QS. Al Muddatstsir (74) : 1-2]

“Adakah yang lebih baik perkataannya selain dari orang-orang yang menyeru kepada Allah swt dan mereka beramal shalih dan berkata sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat 41:33-34)

Selasa, 24 September 2013

Kemauan & Kesiapan

"Bisa saya katakan bahwa yang pertama kali kita siapkan adalah kebangkitan ruhani, hidupnya hati, serta kesadaran penuh yang ada dalam jiwa dan perasaan. Kami menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat, tangguh, hati-hati yang segar serta memiliki semangat yang berkobar, perasaan dan ghirah yang selalu bergelora, ruh-ruh yang bersemangat, selalu optimis, merindukan nilai-nilai yang luhur, tujuan mulia serta mau bekerja keras untuk menggapainya...” (Risalah Da’watuna Fii Thaurin Jadiid)

“Dan tidak ada bekal yang layak bagi umat dalam meniti jalan yang keras dan mengerikan ini kecuali jiwa yang beriman, tekad kuat nan jujur, kegemaran berkorban dan berani menanggung resiko. Dan tanpa ini semua gerakan dakwah akan dikalahkan dan kegagalan menjadi sahabat putra-putra dakwah.” (Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyyun)